Laman

Rabu, 17 April 2013

SEPEDA ONTEL

Lelaki tua dengan pakaian sangat sederhana berjalan menuju depan rumah reotnya. Jenggot panjangnya terbelai angin, matanya dilapisi kaca lensa untuk bisa melihat dunia, tangannya selalu ditemani tongkat kayu jambu, sandal kayunya kasar, peci kajinya terus singgah di atas kepala, saku baju batiknya berisi buku kecil dan polpen, pipi keriputnya basah air wudlu.

Dialah Mbah Kaji Kadir. Panggilan Mbah Kaji selalu akrab di telinga Mbah Kadir saat ia sedang menunggang Ontel, semacam binatang beroda dua yang tak berekor, Sepeda orang desa. Sepeda inilah satu-satunya benda mahal yang ia punya, dan juga satu-satunya pendamping hidupnya. Karena ia tidak pernah punya bayangan untuk konsentrasi pada perempuan; Nikah. Pikiranannya selalu konsentrasi pada urusan agama pemilik jagad raya, Allah Swt.

Mbah tua ini hanya orang desa biasa, tidak keturunan pemuka agama. Pemikirannya kuno, sehingga tidak punya hasrat ingin gemerlap isi dunia yang semakin hari semakin maju dan modern. Semua tindakanya bersumber dari hatinya yang bersih, sebelum melakukan tindakan ia mempertimbangkan konsekuesinya dengan sangat hati-hati.

Di pagi yang masih buta itu ia mengayuh pedalnya menuju ladang, sekedar menikmati hijau-hijau ranum daun yang masih dibungkus embun. Setiap usai mengucap Subhanallah atas pujian terhadap keindahan ciptaan Tuhannya, Mbah Kaji Kadir kembali pulang.

“Mbah, monggo mampir,” salah seorang tetangga menawari Mbah Kaji yang lewat depan rumahnya.

“Matur suwun Lek,” Mbah Kaji pasti turun dan mampir di rumah tetangganya, sekedar ngobrol dan minum air kendi.

“Mbah nggak kesepian tiap hari sendirian di rumah?” tanya tetangga pemilik rumah.

“Kan ada Ontel ini, selama ada dia saya selalu bahagia. Bahagia bisa diantarkan keliling kampung melihat keindahan ciptaan-Nya.” Jawabnya sambil tersenyum.

***

Malam yang sopan menemani Mbah Kaji membaca hening, hening malam tanpa penerangan obor. Hening yang sangat kosong, sehingga Mbah Kaji ikut kosong pikiranya.

“Ayo kita ambil semangka di ladang milik warga kemudian kita jual di pasar kliwon esok hari, hidup miskin terus-menerus itu membosankan!” ajakan Setan memancing nafsu kejeleknya muncul dalam pikiran yang kosong.

“Jangan! hidup sekali harus berarti, mencuri sekali dan ketahuan pasti mati digebuki. Mencuri itu dilarang agama, dan itu pekerjaan setan, kalau kau tetap mencuri setan kerja apa!” bentak sifat ke-Malaikatannya meluruskan sekaligus memberi pertanyaan.

Mbah Kaji bingung, akhirnya dalam kebingungan tingkat tinggi ia berjalan ke belakang rumah, ia ambil karung, ambil pisau dan memasukkan kantong kecil terbuat dari kain dalam saku baju batiknya. Ia kuatkan tekadnya untuk berangkat menuju ladang di tengah malam.

Jalannya tetap ditemani tongkat kayu jambu, sementara Sepeda Ontelnya ditinggal di rumah. Malam itu benar-benar nekat, pekerjaan yang belum pernah ia kerjakan malam itu juga ia kerjakan.

Waktu 30 menit mengantarkan ia di ladang. Ia berdiri di atas tanah ladang dan mengangkat kedua tangan seraya berdoa terlebih dahulu sebelum mengerjakan sesuatu.

Seperti kebiasaanya tiap hari. “Bismillahirrohmanirrahim, mugo-mugo semongko iki barokah.” Doanya sangat singkat dan ia langsung mengambil pisau. Tajamnya pisau itu semakin membuat hatinya nekat. Kantong yang ada di sakunya ia keluarkan dan ia ambil satu genggam biji semangka. Pisau ia hunuskan di tanah ladang, dan terbentuklah lobangan tempat bibit semangka itu bisa tumbuh. Malam itu juga ia menanam bibit semangka yang telah lama ia simpan di pojok rumahnya.

Dalam hatinya ia yakin kalau bibit semangka yang ia tanam akan tumbuh subur dan berbuah lebat, hasil penjualanya akan ia gunakan berangkat Haji ke Baitullah. Ia memang dipanggil sebutan Mbah Kaji kerena tak pernah melepas peci putih yang menempel di atas kepalanya. Benar itu adalah Peji Kaji, tapi Peci itu adalah pemberian Haji Irsyad sepulang Haji dua tahun lalu yang diberikan kepada Mbah Kadir saat ia berkunjung ke rumahnya.

Sedangkan ladang tempat ia menanam semangka adalah ladang pemberian warga desa sebagai upah terima kasihnya kepada Mbah Kadir atas jasa-jasanya menghidupakan islam, mengurusi keperluan masjid dan membasmi segala bentuk perbuatan Maksiat di desa Bumi Rejo. Malam itu juga ia belajar menanam semangka, perkerjaan yang belum pernah ia kerjakan seumur hidupnya.

***

Tak terasa waktu tiga bulan telah berlalu, waktu 90 hari itu tak henti-hentinya ditemani hujan yang lebat. Air yang turun dari langit kian hari kian tak terbendung di dangkalnya sungai desa Bumi Rejo, tepatnya hari Jum’at. Bumi Rejo tenggelam air bah, banjir besar menyapu habis isi desa.

Pertolongan Allah menyelamatkan Mbah Kaji Kadir, ia tidak sampai terbawa arus air bah yang menyeret setiap tubuh yang tak berdaya. Dalam peristiwa itu Mbah Kaji tidak sampai kehilangan rumahnya yang dilewati banjir. Pendamping hidupnya juga tetap selamat; Sepeda Ontel. Tapi apa yang terjadi di ladangnya?.

Ladangnya yang ditumbuhi buah semangka yang subur dan siap panen itu ludes diterjang banjir, tapi Mbah Kaji tak merasa kehilangan, ia pasrah karena ‘Semua Berasal Dari-Nya dan Kembali kepada-Nya’.

Usaha menanam semangka gagal, tapi ia tak putus asa. Ladangnya yang gembur sisa luapan air bah ia tanami lagi, kini timun.

Setiap sore sehabis menyapu Masjid, ia sempatkan merawat dan kadang sekedar melihat tanamanya dari atas sepedanya. Setiap hari tak pernah ia tinggalkan mengurus keperluan masjid dan keperluan tanaman timunnya dengan rutin disirami.

Di hari yang tak seperti biasanya. Mbah Kaji tak pernah nampak di Masjid, hingga kotoran cicak dan daun-daun pohon berserakahan di lantai terbawa angin liar. Kang Syujak, tukang adzan Masjid heran. Seusai sholat Ashar ia berniat mengunjungi ke rumah Mbah Kaji Kadir.

Sesuai rencana, Kang Syujak ditemani dua orang berangkat ke rumahnya Mbah Kaji. Jarak masjid sampai rumah Mbah Kaji tak seberapa jauh, sekitar 100 m. Sesampai sana, pintu rumah Mbah Kaji tertutup rapat, saat tiga orang ini berusaha membuka pintu, datang tetangga Mbah Kaji.

“7 hari yang lalu Mbah Kaji sudah pergi jauh,” jawab tetangganya.

Tiga orang itu langsung dihujani kesedihan yang tiba-tiba, Inna Lillahi wa Inna ilahi Rojiun. Itulah isi hati 3 orang yang aktif menemani Mbah Kaji sholat jamaah di Masjid tiap harinya.

“33 hari lagi orangnya pulang,” jawaban tetangganya malah membuat 3 orang itu bingung.

“Mbah Kaji tahun ini benar-benar Haji, ia berangkat Haji diajak relawan Surabaya saat survei di desa ini tujuh hari yang lalu,” terang tetangganya menyambung omongan.

“Alhamdulillah, semoga Mabrur,” jawab 3 orang itu dengan hati lega.

***

Warga desa Bumi Rejo berdatangan ke rumah Mbah Kaji H. Kadir. Haji tua itu baru datang dari tanah Suci Makkah bersama orang dermawan asal kota Surabaya.
Kang Syuja’, Lek Pi’i, De Suroso, tiga orang yang kemarin datang ke rumah itu ikut bungah saat sambang Mbah Kaji H. Kadir. Di dalam rumah, 3 orang itu melihat orang yang sepertinya telah memberangkatkan Haji Mbah Kadir. Tanpa panjang waktu, Kang Syuja’ menghampirinya dan bertanya seputar apa yang ada di pikiranya.

“Pak, gimana kabarnya dari Makkah, sehat,?” tanya basa-basi Kang Syujak sebelum mengutarakan pertanyaan yang ada di pikiranya kepada orang yang menghajikan Mbah Kadir.

“Alhamdulillah, malah habis dari Makkah tubuhku terasa lebih ringan dibanding setelah baru sembuh dari penyakit ganasku,” jawab pengusaha itu.

“Bapak ada hubungan kerabat dengan Mbah Kaji Kadir, kok bisa sampai mengajaknya ke Makkah, gimana ceritanya pak,” hujan pertanyaan Kang Syujak.

“Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan beliau, saya hanya usahawan di Surabaya,” jawabnya dengan panjang lebar. Ia menceritakan bahwasanya ia tidak ada niat memberangkatkan haji Mbah Kadir, tapi dia punya Nadzar ingin menghajikan seseorang kalau penyakit tumornya sembuh. Dan Allah benar-benar menyembuhkan penyakit pengusaha sukses ini sehingga ketika dia sedang survei untuk membantu korban banjir di desa Bumi Rejo dia disuruh mampir oleh orang tua yang tak dikenalnya, ialah Mbah Kadir.

Pengusaha itu dijamu dengan istimewa, dimuliakan, dan diceritakan tradisi desa setempat, sampai Mbah Kadir mengungkapkan isi hatinya ingin berangkat Haji ke Makkah. Dan sebab itulah pengusaha sukses ini terketuk hatinya untuk memberangkatkan Haji, tak lain juga untuk menyempurnakan janji Nadzarnya atas sembuhnya penyakit yang telah lama mengindapnya.

Keinginan berangkat Haji simbah tua itu terwujud, kini ia dipanggil; Mbah Kaji Haji Kadir.

***

Haji tua itu semakin disegani masyarakat karena sifat ketawadlu’anya ditambah setelah ia baru datang dari Tanah Suci Makkah. Hingga suatu hari saat beliau lewat rumah warga, mereka menyapa bertubi-tubi dan menebar senyum yang penuh pengormatan. Hal seperti itu memang pantas bagi Kaji ini, karena tindakanya dan ucapanya sama. Mbah Haji tua ini memegang prinsip, “Lisanul haal afshahu min lisaanil maqaal” “PERBUATAN SIKAP ITU LEBIH MENGENA DARI PADA PERBUATAN UCAP”.

Suatu hari saat Mbah Kaji bersepeda Ontel menuju ladangnya. Di tengah jalan ia melihat perbuatan yang tak senonoh. Di balik semak-semak yang rimbun terdapat perbuatan yang tak manusiawi, perbuatan yang pantas dilakukan hewan. Ya benar kejadian tak senonoh itu benar-benar dilakukan hewan; kambing jantan Kang Syujak menghamili kambing betina milik Lik Amin. “Astaghfirullah”, ucap Mbah Kaji sambil bersepeda menuju ladang.

Untung perbuatan itu dilakukan hewan. Seandainnya itu dilakukan manusia dan terlihat sosok Mbah Kaji sedang lewat, maka siapapun yang berbuat maksiat akan merasa malu, malu pada orang tawadlu’ yang bergelar Haji tua itu.

Bahasa tingkah laku Mbah Kaji membuat setiap orang merasa segan, disegani bukan karena sering umbar dalil dan banyak bicara, bicaranya ia sampaikan dalam bentuk perbuatan. Terbukti saat beliau habis pulang dari masjid dan berpapasan dengan gadis yang sedang tidak punya malu pacaran mesra di bawah pohon Mahoni, langsung menghindar dan menjauh saat sosok tua bersepeda Ontel terlihat akan melewati jalan itu.

Tak hanya orangnya, siapapun dan apapun tindak perbuatan maksiat yang sedang asyik menuruti hawa nafsu seseorang, kok terlihat ada Sepeda Ontel parkir di tengah Jalan, maka siapapun akan malu dan menghindar, seakan-akan sosok Mbah Kaji sedang menyaksikannya, padahal hanya kendaraan pribadinya yang tak punya bahasa sikap; bisu dan lumpuh. Karena Ontelnya adalah benda mati.

Beliau hanyalah manusia yang jauh dari sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah semata. Dan seharusnya yang paling ditakuti oleh setiap manusia ketika berbuat maksiat adalah Allah, Tuhan semesta alam yang tak pernah luput pandanganNya pada setiap tumbuhan, Jin, manusia dan seluruh isi jagat raya. Wallahu ‘a’lam bi ash-showab.
Suci, 17 Januari 2013
Agus Ibrahim al Masyhari. Santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci Manyar Gresik Jawa Timur

Tidak ada komentar: