Laman

Kamis, 18 April 2013

DOWNLOAD MP3 MAUIDOH HASANAH SAFARI MAULID 40 MALAM MAJLIS MAULID WAT TA'LIM RIYADLUL JANNAH TAHUN 2013

http://­www.riyadluljann­ah.org/

Ke-1 Habib Novel bin Muhammad Alaydrus
Ke-2 KH Abdurrahman Qomari
Ke-3 KH Salim Nur
Ke-4 Habib Ahmad bin Yunus Al Muchdor
Ke-5 KH Abdul Wahid (Gus Wahid)
Ke-6 Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih
Ke-7 Habib Ja'far bin Utsman Aljufri
Ke-8 KH Ahmad Subadar
Ke-9 KH Abu Said
Ke-10 KH Ahmad Luthfi Abdul Hadi
Ke-11 KH Khoirul Anam
Ke-12 Ust. Arif Sofyansyah
Ke-13 Habib Haidar bin Sholeh Mauladawilah
Ke-14 KH Salim Nur
Ke-15 Habib Asadullah bin Alwi Alaydrus
Ke-16 Habib Ismail Fajri Al Attas
Ke-17 KH Khoiruddin
Ke-18 Habib Abdullah bin Ali Ba'abud
Ke-19 KH Rofian Karim
Ke-20 Gus Ahmad Musyafak
Ke-21 Habib Toha bin Umar Al-Muchdor
Ke-22 Habib Husain bin Idrus Al-Hamid
Ke-23 Habib Hasan bin Ismail Al-Muchdor
Ke-24 Habib Husain bin Ali bin Aqil
Ke-25 KH Ahmad Sadid Jauhari
Ke-26 Habib Ali Zainal Abidin
Ke-27 Habib Ali bin Idrus bin Aqil
Ke-28 Habib Sholeh Al-Attas
Ke-29 Habib Haidar bin Abdullah bin Shihab
Ke-30 KH Kholil As'ad
Ke-31 Habib Muchdor bin Muhammad bin Sholeh bin Muhsin Al-Hamid
Ke-32 KH Miftahul Akhyar
Ke-33 Habib Hasyim bin Abdullah Assegaf
Ke-34 KH Abdul Ghofur
Ke-35 KH Abdul Qoyyum
Ke-36 Habib Abdulqodir bin Zeid Ba'abud
Ke-37 KH Munir Fathullah
Ke-38 KH Harun Ismail
Ke-38 Syaikh Muhammad bin Ali Ba Atiyah & Ijazah oleh Ulama Hadramaut
Ke-39 KH Ahmad Zaim Ibrohim
Ke-40 Habib Hasyim bin Muhammad bin Sholeh Al-Hamid
Ke-40 KH Muhyiddin bin Abdul Qodir Al-Manafi

http://­www.riyadluljann­ah.org/

DOWNLOAD MP3 MAUIDOH HASANAH SAFARI MAULID 40 MALAM MAJLIS MAULID WAT TA'LIM RIYADLUL JANNAH TAHUN 2013

http://­www.riyadluljann­ah.org/

Ke-1 Habib Novel bin Muhammad Alaydrus
Ke-2 KH Abdurrahman Qomari
Ke-3 KH Salim Nur
Ke-4 Habib Ahmad bin Yunus Al Muchdor
Ke-5 KH Abdul Wahid (Gus Wahid)
Ke-6 Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih
Ke-7 Habib Ja'far bin Utsman Aljufri
Ke-8 KH Ahmad Subadar
Ke-9 KH Abu Said
Ke-10 KH Ahmad Luthfi Abdul Hadi
Ke-11 KH Khoirul Anam
Ke-12 Ust. Arif Sofyansyah
Ke-13 Habib Haidar bin Sholeh Mauladawilah
Ke-14 KH Salim Nur
Ke-15 Habib Asadullah bin Alwi Alaydrus
Ke-16 Habib Ismail Fajri Al Attas
Ke-17 KH Khoiruddin
Ke-18 Habib Abdullah bin Ali Ba'abud
Ke-19 KH Rofian Karim
Ke-20 Gus Ahmad Musyafak
Ke-21 Habib Toha bin Umar Al-Muchdor
Ke-22 Habib Husain bin Idrus Al-Hamid
Ke-23 Habib Hasan bin Ismail Al-Muchdor
Ke-24 Habib Husain bin Ali bin Aqil
Ke-25 KH Ahmad Sadid Jauhari
Ke-26 Habib Ali Zainal Abidin
Ke-27 Habib Ali bin Idrus bin Aqil
Ke-28 Habib Sholeh Al-Attas
Ke-29 Habib Haidar bin Abdullah bin Shihab
Ke-30 KH Kholil As'ad
Ke-31 Habib Muchdor bin Muhammad bin Sholeh bin Muhsin Al-Hamid
Ke-32 KH Miftahul Akhyar
Ke-33 Habib Hasyim bin Abdullah Assegaf
Ke-34 KH Abdul Ghofur
Ke-35 KH Abdul Qoyyum
Ke-36 Habib Abdulqodir bin Zeid Ba'abud
Ke-37 KH Munir Fathullah
Ke-38 KH Harun Ismail
Ke-38 Syaikh Muhammad bin Ali Ba Atiyah & Ijazah oleh Ulama Hadramaut
Ke-39 KH Ahmad Zaim Ibrohim
Ke-40 Habib Hasyim bin Muhammad bin Sholeh Al-Hamid
Ke-40 KH Muhyiddin bin Abdul Qodir Al-Manafi

http://­www.riyadluljann­ah.org/

Rabu, 17 April 2013

SEPEDA ONTEL

Lelaki tua dengan pakaian sangat sederhana berjalan menuju depan rumah reotnya. Jenggot panjangnya terbelai angin, matanya dilapisi kaca lensa untuk bisa melihat dunia, tangannya selalu ditemani tongkat kayu jambu, sandal kayunya kasar, peci kajinya terus singgah di atas kepala, saku baju batiknya berisi buku kecil dan polpen, pipi keriputnya basah air wudlu.

Dialah Mbah Kaji Kadir. Panggilan Mbah Kaji selalu akrab di telinga Mbah Kadir saat ia sedang menunggang Ontel, semacam binatang beroda dua yang tak berekor, Sepeda orang desa. Sepeda inilah satu-satunya benda mahal yang ia punya, dan juga satu-satunya pendamping hidupnya. Karena ia tidak pernah punya bayangan untuk konsentrasi pada perempuan; Nikah. Pikiranannya selalu konsentrasi pada urusan agama pemilik jagad raya, Allah Swt.

Mbah tua ini hanya orang desa biasa, tidak keturunan pemuka agama. Pemikirannya kuno, sehingga tidak punya hasrat ingin gemerlap isi dunia yang semakin hari semakin maju dan modern. Semua tindakanya bersumber dari hatinya yang bersih, sebelum melakukan tindakan ia mempertimbangkan konsekuesinya dengan sangat hati-hati.

Di pagi yang masih buta itu ia mengayuh pedalnya menuju ladang, sekedar menikmati hijau-hijau ranum daun yang masih dibungkus embun. Setiap usai mengucap Subhanallah atas pujian terhadap keindahan ciptaan Tuhannya, Mbah Kaji Kadir kembali pulang.

“Mbah, monggo mampir,” salah seorang tetangga menawari Mbah Kaji yang lewat depan rumahnya.

“Matur suwun Lek,” Mbah Kaji pasti turun dan mampir di rumah tetangganya, sekedar ngobrol dan minum air kendi.

“Mbah nggak kesepian tiap hari sendirian di rumah?” tanya tetangga pemilik rumah.

“Kan ada Ontel ini, selama ada dia saya selalu bahagia. Bahagia bisa diantarkan keliling kampung melihat keindahan ciptaan-Nya.” Jawabnya sambil tersenyum.

***

Malam yang sopan menemani Mbah Kaji membaca hening, hening malam tanpa penerangan obor. Hening yang sangat kosong, sehingga Mbah Kaji ikut kosong pikiranya.

“Ayo kita ambil semangka di ladang milik warga kemudian kita jual di pasar kliwon esok hari, hidup miskin terus-menerus itu membosankan!” ajakan Setan memancing nafsu kejeleknya muncul dalam pikiran yang kosong.

“Jangan! hidup sekali harus berarti, mencuri sekali dan ketahuan pasti mati digebuki. Mencuri itu dilarang agama, dan itu pekerjaan setan, kalau kau tetap mencuri setan kerja apa!” bentak sifat ke-Malaikatannya meluruskan sekaligus memberi pertanyaan.

Mbah Kaji bingung, akhirnya dalam kebingungan tingkat tinggi ia berjalan ke belakang rumah, ia ambil karung, ambil pisau dan memasukkan kantong kecil terbuat dari kain dalam saku baju batiknya. Ia kuatkan tekadnya untuk berangkat menuju ladang di tengah malam.

Jalannya tetap ditemani tongkat kayu jambu, sementara Sepeda Ontelnya ditinggal di rumah. Malam itu benar-benar nekat, pekerjaan yang belum pernah ia kerjakan malam itu juga ia kerjakan.

Waktu 30 menit mengantarkan ia di ladang. Ia berdiri di atas tanah ladang dan mengangkat kedua tangan seraya berdoa terlebih dahulu sebelum mengerjakan sesuatu.

Seperti kebiasaanya tiap hari. “Bismillahirrohmanirrahim, mugo-mugo semongko iki barokah.” Doanya sangat singkat dan ia langsung mengambil pisau. Tajamnya pisau itu semakin membuat hatinya nekat. Kantong yang ada di sakunya ia keluarkan dan ia ambil satu genggam biji semangka. Pisau ia hunuskan di tanah ladang, dan terbentuklah lobangan tempat bibit semangka itu bisa tumbuh. Malam itu juga ia menanam bibit semangka yang telah lama ia simpan di pojok rumahnya.

Dalam hatinya ia yakin kalau bibit semangka yang ia tanam akan tumbuh subur dan berbuah lebat, hasil penjualanya akan ia gunakan berangkat Haji ke Baitullah. Ia memang dipanggil sebutan Mbah Kaji kerena tak pernah melepas peci putih yang menempel di atas kepalanya. Benar itu adalah Peji Kaji, tapi Peci itu adalah pemberian Haji Irsyad sepulang Haji dua tahun lalu yang diberikan kepada Mbah Kadir saat ia berkunjung ke rumahnya.

Sedangkan ladang tempat ia menanam semangka adalah ladang pemberian warga desa sebagai upah terima kasihnya kepada Mbah Kadir atas jasa-jasanya menghidupakan islam, mengurusi keperluan masjid dan membasmi segala bentuk perbuatan Maksiat di desa Bumi Rejo. Malam itu juga ia belajar menanam semangka, perkerjaan yang belum pernah ia kerjakan seumur hidupnya.

***

Tak terasa waktu tiga bulan telah berlalu, waktu 90 hari itu tak henti-hentinya ditemani hujan yang lebat. Air yang turun dari langit kian hari kian tak terbendung di dangkalnya sungai desa Bumi Rejo, tepatnya hari Jum’at. Bumi Rejo tenggelam air bah, banjir besar menyapu habis isi desa.

Pertolongan Allah menyelamatkan Mbah Kaji Kadir, ia tidak sampai terbawa arus air bah yang menyeret setiap tubuh yang tak berdaya. Dalam peristiwa itu Mbah Kaji tidak sampai kehilangan rumahnya yang dilewati banjir. Pendamping hidupnya juga tetap selamat; Sepeda Ontel. Tapi apa yang terjadi di ladangnya?.

Ladangnya yang ditumbuhi buah semangka yang subur dan siap panen itu ludes diterjang banjir, tapi Mbah Kaji tak merasa kehilangan, ia pasrah karena ‘Semua Berasal Dari-Nya dan Kembali kepada-Nya’.

Usaha menanam semangka gagal, tapi ia tak putus asa. Ladangnya yang gembur sisa luapan air bah ia tanami lagi, kini timun.

Setiap sore sehabis menyapu Masjid, ia sempatkan merawat dan kadang sekedar melihat tanamanya dari atas sepedanya. Setiap hari tak pernah ia tinggalkan mengurus keperluan masjid dan keperluan tanaman timunnya dengan rutin disirami.

Di hari yang tak seperti biasanya. Mbah Kaji tak pernah nampak di Masjid, hingga kotoran cicak dan daun-daun pohon berserakahan di lantai terbawa angin liar. Kang Syujak, tukang adzan Masjid heran. Seusai sholat Ashar ia berniat mengunjungi ke rumah Mbah Kaji Kadir.

Sesuai rencana, Kang Syujak ditemani dua orang berangkat ke rumahnya Mbah Kaji. Jarak masjid sampai rumah Mbah Kaji tak seberapa jauh, sekitar 100 m. Sesampai sana, pintu rumah Mbah Kaji tertutup rapat, saat tiga orang ini berusaha membuka pintu, datang tetangga Mbah Kaji.

“7 hari yang lalu Mbah Kaji sudah pergi jauh,” jawab tetangganya.

Tiga orang itu langsung dihujani kesedihan yang tiba-tiba, Inna Lillahi wa Inna ilahi Rojiun. Itulah isi hati 3 orang yang aktif menemani Mbah Kaji sholat jamaah di Masjid tiap harinya.

“33 hari lagi orangnya pulang,” jawaban tetangganya malah membuat 3 orang itu bingung.

“Mbah Kaji tahun ini benar-benar Haji, ia berangkat Haji diajak relawan Surabaya saat survei di desa ini tujuh hari yang lalu,” terang tetangganya menyambung omongan.

“Alhamdulillah, semoga Mabrur,” jawab 3 orang itu dengan hati lega.

***

Warga desa Bumi Rejo berdatangan ke rumah Mbah Kaji H. Kadir. Haji tua itu baru datang dari tanah Suci Makkah bersama orang dermawan asal kota Surabaya.
Kang Syuja’, Lek Pi’i, De Suroso, tiga orang yang kemarin datang ke rumah itu ikut bungah saat sambang Mbah Kaji H. Kadir. Di dalam rumah, 3 orang itu melihat orang yang sepertinya telah memberangkatkan Haji Mbah Kadir. Tanpa panjang waktu, Kang Syuja’ menghampirinya dan bertanya seputar apa yang ada di pikiranya.

“Pak, gimana kabarnya dari Makkah, sehat,?” tanya basa-basi Kang Syujak sebelum mengutarakan pertanyaan yang ada di pikiranya kepada orang yang menghajikan Mbah Kadir.

“Alhamdulillah, malah habis dari Makkah tubuhku terasa lebih ringan dibanding setelah baru sembuh dari penyakit ganasku,” jawab pengusaha itu.

“Bapak ada hubungan kerabat dengan Mbah Kaji Kadir, kok bisa sampai mengajaknya ke Makkah, gimana ceritanya pak,” hujan pertanyaan Kang Syujak.

“Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan beliau, saya hanya usahawan di Surabaya,” jawabnya dengan panjang lebar. Ia menceritakan bahwasanya ia tidak ada niat memberangkatkan haji Mbah Kadir, tapi dia punya Nadzar ingin menghajikan seseorang kalau penyakit tumornya sembuh. Dan Allah benar-benar menyembuhkan penyakit pengusaha sukses ini sehingga ketika dia sedang survei untuk membantu korban banjir di desa Bumi Rejo dia disuruh mampir oleh orang tua yang tak dikenalnya, ialah Mbah Kadir.

Pengusaha itu dijamu dengan istimewa, dimuliakan, dan diceritakan tradisi desa setempat, sampai Mbah Kadir mengungkapkan isi hatinya ingin berangkat Haji ke Makkah. Dan sebab itulah pengusaha sukses ini terketuk hatinya untuk memberangkatkan Haji, tak lain juga untuk menyempurnakan janji Nadzarnya atas sembuhnya penyakit yang telah lama mengindapnya.

Keinginan berangkat Haji simbah tua itu terwujud, kini ia dipanggil; Mbah Kaji Haji Kadir.

***

Haji tua itu semakin disegani masyarakat karena sifat ketawadlu’anya ditambah setelah ia baru datang dari Tanah Suci Makkah. Hingga suatu hari saat beliau lewat rumah warga, mereka menyapa bertubi-tubi dan menebar senyum yang penuh pengormatan. Hal seperti itu memang pantas bagi Kaji ini, karena tindakanya dan ucapanya sama. Mbah Haji tua ini memegang prinsip, “Lisanul haal afshahu min lisaanil maqaal” “PERBUATAN SIKAP ITU LEBIH MENGENA DARI PADA PERBUATAN UCAP”.

Suatu hari saat Mbah Kaji bersepeda Ontel menuju ladangnya. Di tengah jalan ia melihat perbuatan yang tak senonoh. Di balik semak-semak yang rimbun terdapat perbuatan yang tak manusiawi, perbuatan yang pantas dilakukan hewan. Ya benar kejadian tak senonoh itu benar-benar dilakukan hewan; kambing jantan Kang Syujak menghamili kambing betina milik Lik Amin. “Astaghfirullah”, ucap Mbah Kaji sambil bersepeda menuju ladang.

Untung perbuatan itu dilakukan hewan. Seandainnya itu dilakukan manusia dan terlihat sosok Mbah Kaji sedang lewat, maka siapapun yang berbuat maksiat akan merasa malu, malu pada orang tawadlu’ yang bergelar Haji tua itu.

Bahasa tingkah laku Mbah Kaji membuat setiap orang merasa segan, disegani bukan karena sering umbar dalil dan banyak bicara, bicaranya ia sampaikan dalam bentuk perbuatan. Terbukti saat beliau habis pulang dari masjid dan berpapasan dengan gadis yang sedang tidak punya malu pacaran mesra di bawah pohon Mahoni, langsung menghindar dan menjauh saat sosok tua bersepeda Ontel terlihat akan melewati jalan itu.

Tak hanya orangnya, siapapun dan apapun tindak perbuatan maksiat yang sedang asyik menuruti hawa nafsu seseorang, kok terlihat ada Sepeda Ontel parkir di tengah Jalan, maka siapapun akan malu dan menghindar, seakan-akan sosok Mbah Kaji sedang menyaksikannya, padahal hanya kendaraan pribadinya yang tak punya bahasa sikap; bisu dan lumpuh. Karena Ontelnya adalah benda mati.

Beliau hanyalah manusia yang jauh dari sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah semata. Dan seharusnya yang paling ditakuti oleh setiap manusia ketika berbuat maksiat adalah Allah, Tuhan semesta alam yang tak pernah luput pandanganNya pada setiap tumbuhan, Jin, manusia dan seluruh isi jagat raya. Wallahu ‘a’lam bi ash-showab.
Suci, 17 Januari 2013
Agus Ibrahim al Masyhari. Santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci Manyar Gresik Jawa Timur

Rabu, 09 Januari 2013

Kisah Abu Bakar Digigit Ular : Dialog Sufi

Moh Yasir Alimi, PhD, mantan pengurus PCI NU Cabang Istimewa Australia dan New Zealand (2005-2009) berdialog tentang jalan kesufian dengan Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani. Sang syekh adalah khadim atau pelayan thariqat Naqsabandi Haqqani di Indonesia.


Syaikh Mustafa lahir di Jombang, 25 Januari 1947. Ia adalah ulama sufi Ahlusunnah Wal Jamaa’ah yang menempuh pendidikan di pesantren Darul ’Ulum Jombang, IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Setelah itu, Mustafa, yang kini membimbing 90 zawiyyah thariqat Naqsabandiah Haqqani di Indonesia, melanjutkan studinya ke School of Oriental African Studies (SOAS) University of London, dan Studies Johann Wolfgang Goethe Universitat, Frankfurt Am Mainz, Jerman.

Sebelum mengabdikan 100 persen waktunya untuk dakwah, ia pernah menjadi peneliti di LP3ES,dosen STAN Jakarta, dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dosen Universitas Kebangsaan Malaysia. Pernah juga ia bekerja di Kementerian Belia dan Sukan dan Kuala Lumpur HRDC Trainer Malaysia.

Tahun 1997, ia ditunjuk oleh Maulana Syaikh Nadzim Al Haqqani Ciprus dan Maulana Syaikh Hisyam Kabbani Ar Robbani USA sebagai The Representatif of The Naqsybandi Sufi Order Indonesia.

Sejak saat itu, Syaikh Mustafa melepaskan profesinya dan mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk dakwah berkeliling ke seluruh penjuru Indonesia membimbing umat agar mencintai Rasulullah.

Di bawah perintah dan bimbingan Maulana Syaikh Nadzim, metoda dakwah Syaikh Mustafa mengedepankan semangat mencintai Rasulullah SAW, perdamaian, toleransi, cinta, kasing sayang dan persaudaraan. Dialog Yasir dan sang Syaikh, ada yang ketemu langsung, adapula melalui sms, maka gaya bahasa bisa bermacam-macam, dari bahasa sms, percakapan dan bahasa gaul. Berikut ini bagian pertama dialo kesufia.

Syaikh, terangkan kepadaku apa hakekat thariqat?


Thariqat adalah suatu kebersamaan dengan syaikh, untuk melebur ego, ke dalam suasana adab agar hati yang bersangkutan bisa merasakan arti fana missal fi adhomatil akhirat. Bukan suntuk cuma dengan dunia saja. Thariqat juga tentang azimah, keterkaitan dengan Rasulullah, akhlaknya, sunnahnya, tentang adhomatil Quran; tentang kemaslahatan hidup; tentang iklim saling kecintaan terhadap sesama manusia; tentang barokah kesalehan; tentang pertalian antara hamba dengan Allah; tentang hudhur, tentang getar dalam hati kita akan kehadiran Allah. Inilah antara lain mutiara-mutiara Islam yang makin terasa hilang; maka temukanlah kembalimutiara itu melalui thariqat.

Bisa dijelaskan lagi Syaikh, tentang rasa cinta dan getar di dada itu?


Lihatlah kecintaan dan getar hati Abu Bakar. 1427 tahun yang lalu, ketika Rasulullah harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayidina Abu Bakar, orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping dalam perjalanan menuju ke Madinah.

Sayidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan "Penuh Adab yang Bersungguh", di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rasulullah berjalan menuju ke Tenggara. Sayyidina Abu Bakar boro-boro complain (mengeluh), criticizing, bertanya pun tidak, jare nang Madinah, lha kok ngidul, kenapa lewatTenggara?

Itu cermin apa, Syaihk?


Itu cerminan dari Adab. Dengan penuh kecintaan, Sayyidina Abu Bakar yang lebih tua dari Rasulullah, yang punya kelayakan psikologis untuk mempertanyakan, untuk meminta kejelasan seperti yang barangkali terjadi dalam kehidupan kita sekarang yangmenjadi ruh dari reformasi, segala hal dipertanyakan sehingga batasan antara adab dan tidak adab, luber, hilang.

Sayyidina Abu Bakar tidak bertanya, Beliau ikut saja apa yang dibuat oleh Rasulullah, karena di hati Beliau ada "cinta" dan “percaya" dan sesuatu yang tidak lagi perlu tawar-menawar. Rasulullah Al Amin,tidak pernah keluar dari lidah Beliau sesuatu yang tidak patut tidak dipercaya. Pribadinya penuh pancaran kecintaan. Mencintai dan sangat pantes dicintai.Pribadinya begitu rupa menimbulkan `desire', suatu kerinduan. Ini sebenarnya yang menjadi sangatpenting untuk dijelaskan.
Nabi Muhammad berjalan. Sayidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayidina Abu Bakar sadar. "Ooo … Mau istirahat ke Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rasulullah naik, Oooo…kesimpulan Sayidina Abu Bakar.” With no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi.

Pertama-tama, dalam Islam yang kita butuhkan bukan`ngerti' syariat, tapi cinta terhadap yang mengajarkannya dan Dzat Maha Suci yang menurunkannya. Tanpa kacamata tersebut, tanpa rasa cinta tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi "The Matter of Transaction", tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rasulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan, "Oooo … Rasulullah mau istirahat di Gua Tsur."

Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan di gunung, pasti ada ular berbisanya. Itu reason, pikiran digunakan sesudah ‘cinta’, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang well enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (tidak senonoh), yang bisa bertingkah macam-macam, menimbulkan problem.

Lantas, apa yang kemudian dilakukan Abu Bakar?


Beliau kemudian mendekati Rasulullah, kasih aku kesempatan masuk. Rasulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3. Barangkali sudah kruntelan di situ, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang di situ. Beliau buka sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rasulullah. Beliau tidak mau Rasulullah digigit ular.

Akhirnya kakinya dicatel (digigit) oleh ular. Kemudian Beliau bilang, “Silakan masuk Rasulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon.” Rasul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rasulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rasulullah.

Bagaimana respon Rasulullah, Syaikh?


"Nangis Sampean?” tanya Rasulullah.

"Tidak,” jawab Abu Bakar, “kakiku digigit ular."

There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rasulullah berkata pada ular.

" Hai Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?"

Dialog Rasulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

"Ya aku ngerti Kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Apa kata Allah?


"Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah.

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad. "

Apa pesan dari cerita Sayidina Abu Bakar, Syaikh?


Rasa cinta Abu Bakar As-Shiddiq pelajaran yang sangat essential, bukan textual. Cerita tentang Islam seperti terdeskripsi dalam Al-Qur'an, dalam hadits, tidak dapat kita tangkap muatan sebenarnya yang ada di dalamnya bila tidak dengan hati, with no sense, with no heart.

Gaya hidup di dada Abu Bakar dalam bercinta, dalam berkerendahan hati, dalam berketulusan, dalam berkesediaan untuk patuh, dan untuk membuat pengkhidmatan, itu adalah rukun Islam yang tidak tertulis. Semua ini adalah muatan di dalam kehidupan Rasulullah.

Lihatlah kehidupan sekarang. Aku dan kamu setiap hari secara mauqut diberikan kesempatan untuk mengucapkan "Assalamu'alaika ya ayyuhan nabiyyu warahmatullah". Tapi with no sense, with no heart, belum sempat Rasulullah kita pindahkan ke perasaan, ke hati kita, belum sempat akhirat kita hadirkan ke dalam rasa kita Bagaimana aku dan kamu bisa menjadi `abid, bagaimana aku dan kamu menjadi shakir, bagaimana aku dan kamu menjadi muttaqiin dan seterusnya dan seterusnya. Itulah persoalan kita. Maha mulia Allah yang memberi kita rahmat dan taufiq, supaya kita semuanya berkhidmad.

Saya semakin paham maksud Syaikh. Thariqat adalah tentang azimah keterkaitan dengan Rasulullah. Terangkanlah lebih luas lagi kepadaku tentang hal ini agar kepala dan hati kami menjadi terang?

Azimah adalah lawan kata dari ruskhsah, yaitu keringanan, selanjutnya yang enteng, kemudian dalam praktek bias jadi perilaku atau suasana hati yang ngentengin. Ini salah kaprah dalam ibadah. Bisakah tukmaninah dan khusuk dalam bobot enteng-enteng saja, cuma sekilas sambil lalu?

Di situ ada nada yang hilang dan menguap; sejenis kesungguhan, ikhlas, istiqamah, ihsan, hudlur, getar hati. Ini bisa didapatnya melalui thariqat. Nah Rasulullah adalah mainstream kehadiran kita terhadap kehadiran Allah, dalam aneka perspektif yang ada, akhlak, aqidah, syariat, ibadah, sastra. Bukan Al-Quran hadits sendiri.

Kemasannya musti azimah, jangan sampai cuma suplemen, asesoris, cuma seremoni apalagi dikontroversikan sebagai bidah, perlu rumusan paradigm yang benar-benar akurat. Di sini pentingya istighfar di thariqat: min kulli ma yukholiful azimah.

Jadi saat ini pun, kita semestinya senantiasa menjaga pertalian ruhani dan batin terhadap Rasulullah agar mendapatkan rahmat Allah.

Ya Yasir, berangkat dari aturan dalam tahiyat shalat, kita diniscayakan untuk direct communication dengan beliau, apakah telah cukup kadar esoteric dan kesungguhan dalam bersalaman kepada beliau? Di tharikat ini justru dijadikan urat nadi ibadah kita, bahkan hidup kita pada dasarnya dan secara menyeluruh bertumpu pada Rasulullah. Ini merujuk pada hadis Qudsi.

Hadits pertama, Ya Muhammad Aku berkenan untuk mencipta manusia, walau mereka suka seenak sendiri, Aku menjadikan mereka pilihan-Ku karena itu mereka Kuserahkan dan Kutitipkan kepadamu Muhammad, sentuhlah qalbu mereka olehmu agar tak ngaco-ngaco banget, kembalikan mereka kelak pada-Ku di akherat dalam keadaan fitri sebagaimana ketika Kuserahkan padamu”.

Hadis Qudsi kedua. Suatu ketika Rasulullah memampak sosok yang tak beliau kenali, padahal beliau paham semua orang, maka sabda beliau:

“Siapa kamu?”
“Aku Iblis” tukas orang asing itu.
“Lho kok ngaku biasanya kan kamu menipu?” Tanya Rasulullah.
“Aku diperintah Allah untuk datang kepadamu dan menjawab secara benar”.
“Ooo.. “siapa yang paling tak kamu sukai?” tanya Nabi.
“Kamu,” jawab iblis tegas.
“Kenapa,” tanya Rasulullah.
“Orang yang bersama Kamu tak dapat kugoda,” jawab iblis.

Banyak orang sulit memahami ini karena menganggap Rasulullah sudah mati, Syaikh?

Yang mati kita, bukan Rasulullah.[]

Sumber: www.nu.or.id