Laman

Jumat, 08 Juni 2012

Abu Darda'


Abu Darda'

sesuatu sedikit tapi memberi kecukupan bagimu lebih baik daripada banyak tapi menghancurkanmu 
.
Nama lengkapnya ‘Uwaimir bin Malik bin Qis bin Umaiyah al-Anshory al-Khazrojy. Nama panggilnya Abu Darda. Begitu juga nama gelarnya Abu Darda. Khazrojy berasal dari Khazroj yaitu nama kabilah yang berasal dari Yaman. Setelah itu beliau pindah ke Madinah. Bersama kabilah Aus, kabilah Khazroj merupakan ‘ikon’ penduduk anshor di Madinah.
.
Suatu hari beliau pergi tempat dagangnya. Sebelum pergi, beliau sempat memandangi patungnya yang diletakkan di tempat paling mulia. Patung itu dihiasi barang-barang mewah. Sesampainya di Yatsrib (Madinah), di mana beliau berjualan, tampak jalan-jalan di pasar dipenuhi pengikut Rasulullah. Kononnya mereka baru pulang dari perang Badr. Diantara pengikut Rasulullah itu ada Abdullah bin Rawaha, teman satu kabilah. Di kalangan kabilahnya, Abdullah dikenal sebagai penyair. Kedunya memang dekat sejak masa jahiliyah. Ketika datang ajaran Islam, Abdullah mengikut ajaran Islam. Sedangkan beliau enggan. Meski demikian, keduanya masih tetap bersahabat baik.
Ketika beliau masih sibuk dengan barang dagangannya, Abdullah menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah beliau. Karena beliau masih di pasar, maka Abdullah hanya bertemu dengan ibunya. Karena sudah kenal, ibunya mengizinkan masuk rumahnya. Abdullah masuk ke kamarnya. Di kamarnya terdapat patung. Kemudian Abdullah mengeluarkan pedangnya. Patung itupun dipotong-potong sambil berucap; “Sesembahan selain Allah adalah batil. Sesembahan selain Allah adalah batil.” Setelah itu Abdullah pergi.
Tidak beberapa lama, beliau datang dari pasar. Dilihatnya wanita menangis tersedu dan dengan suara tinggi di pintu rumahnya. Ada apa gerangan!!!Dilihatnya patung itu sudah berkeping-keping. Wanita itu memberitahu bahwa yang melakukan itu adalah Abdullah bin Rawaha.
Darahnya naik. Marah! Dirinya hendak membalas dendam atas penghinaanya itu. Hanya saja emosinya itu mulai reda. Marahnya sedikit berkurang. Setelah itu beliau berpikir apa yang terjadi dengan patung itu. Dalam hatinya berbisik; “Sekiranya patung itu memberi kebaikan, niscaya dia mampu mempertahankan dirinya!” Akhirnya mendatangi Abdullah. Keduanya kemudian pergi menghadap Rasulullah. Sejak itu, beliau berikrar masuk Islam.
Setelah dirinya dengan ikhlas mengikuti ajaran Rasulullah, beliau mulai rajin menjalankan syariat Islam. Beliau sadar bahwa selama ini kebaikannya sangat sedikit. Maka beliau ingin membuang dosa-dosa masa lampaunya dengan banyak beribadah. Dunia dagangnya ditinggalkan setelah dirinya masuk Islam karena takut menganggu ibadahnya.
Siangnya untuk puasa. Malamnya untuk qiyamul lail ‘sholat malam.’ Terkadang kewajiban sebagai suami kepada istri terlupakan. Hingga suatu hari beliau berjumpa dengan Salman al-Farisi. Waktu itu Salman mendengar bahwa beliau kurang peduli dengan urusan keluarga. Maka Salman menasehatinya; “Ingat, kamu wajib menjalan hakmu kepada tuhanmu dan kamu juga wajib menjalankan hakmu kepada keluargamu.” Begitulah nasehatnya mengikuti ucapan Rasulullah.
Mengenai zuhudnya itu, beliau kata; “Dulu saya seorang pedagang sebelum Islam datang. Ketika ajaran Islam datang dan (saya masuk Islam), saya gabungkan antara dagang dan ibadah. Tapi keduanya tidak bersatu. Hingga akhirnya saya tinggalkan profesi dagang dan saya komitmen dengan ibadah.”
Mengenai ucapannya itu, al-Imam Ad-Dahaby berkata; “afdolnya mengabungkan keduanya dengan berijtihad. Terkadang memang tidak semua mampu mengabungkan keduanya. Akan tetapi hak-hak dalam keluarga juga tidak kalah penting.”
Beliau adalah salah seorang sahabat Rasul yang hafal al-Qur’an. Pada masa kholifah Umar bin Khottob, beliau dijadikan sebagai qodhi di Damaskus. Pada waktu beliau memangku jabatan qodhi di Syam pada masa kholifah Utsman, beliau tidak merasa heran dengan kerusakan penduduk Syam karena keduniaan. Di depan penduduk Syam beliau berkhutbah; “Wahai penduduk Syam, kalian adalah kawan seagama dan tetangga dalam rumah dan penolong dalam menghadapi musuh. Akan tetapi kenapa saya lihat kalian tidak merasa malu. Kalian kumpulkan sesuatu tapi kalian tidak memakannya. Kalian bangun bangunan bagus tapi tidak dihuni. Kalian mengharapkan apa yang tidak inginkan…”
Karena zuhudnya itu, beliau menolak menikahi putrinya dengan Yazid bin Muawwiyah tapi justru menikahi putrinya dengan orang miskin tapi soleh. Hal itu disebabkan kerena beliau takut akan melalaikan akherat.
Mengenai pribadinya Rasulullah pernah bersabda; “’Uwaimir adalah hakim umatku. Dan sebaik-baiknya tentara adalah ‘Uwaimir.” Dari Anas diceritakan bahwa Rasulullah wafat dan al-Qur’an belum dikumpulkan selain empat orang; Abu Darda, Mu’adh, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.”
Diantara ucapan beliau yang terkenal;
“Kenapa saya lihat orang alim yang ada pada kalian pergi dan orang-orang bodoh engak belajar. Belajarlah! Karena orang alim dan orang yang belajar itu keduanya saling membagi pahala.”
“Celaka sekali bagi orang tidak tahu dan celaka tujuh kali bagi orang yang tahu tapi tidak mau mengerjakan.”
“Ingat, sesuatu sedikit tapi memberi kecukupan bagimu lebih baik daripada banyak tapi menghancurkanmu”
Selama berjuang bersama Rasulullah, beliau telah meriwayatkan kurang lebih 179 hadits. Diantara hadits riwayatnya itu; Rasulullah bersabda; “Kumpulkan aku dengan dhu’aafa (orang-orang lemah). Kalian dimenangkan dan diberi rezki sebab orang-orang dhu’afa.”
Pada tahun 32 Hijriah beliau wafat di Syam. Pendapat lain mengatakan beliau wafat tahun 23 Hijriah di Madinah

Uthbah bin Ghazwan


Uthbah bin Ghazwan

Biasanya dipanggil Abu Abdullah. Nama sebenarnya ‘Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahib al-Haritsi al-Mazany. Lahir empat puluh tahun sebelum Hijrah Rasulullah. Beliau termasuk dari orang-orang muhajirin yang pertama. Tubuhnya tinggi dan wajahnya ‘gagah’.
.
Pada awal masuk Islam, beliau disiksa oleh bangsa Quraisy. Hanya saja beliau  dalam menghadapi siksaan itu. Namun akhirnya beliau ikut berhijrah ke Habsyah (Ethopia) bersama orang-orang Islam yang lain karena tidak kuat menerima siksaan Quraisy. Setelah beberapa lama di sana, beliau kembali ke Mekkah dan akhirnya ikut berhijrah ke Madinah.
Beliau termasuk pemanah ulung di kalangan bangsa Arab. Setelah dirinya masuk Islam, beliau dikenalkan dengan Abu Dajanah oleh Rasululah. Selama berjuang bersama Rasulullah, beliau ikut dalam  Badr. Juga beliau ikut dalam  Qodasiah bersama Sa’ad bin Abu Waqos.
Pada masa kholifah Umar bin Khottob, beliau diutus ke kota Ubullah, sebuah kawasan di Persia. Tujuannya untuk mentaklukan kawasan itu. Kota Ubullah merupakan kota yang dijaga ketat yang ada  Dajlah. Orang Persia menyimpan senjatanya di situ. Di kota itu juga dibuat tower-tower untuk meneropong musuh. Meski bersamanya  dalam jumlah yang kecil, beliau tidak takut. Meski  yang digunakan Cuma  dan , beliau tidak pantang menyerah. Setelah peperangan selasai akhirnya kawasan itu dapat ditaklukan. Kota Ubullah kemudian diganti dengan nama kota ‘Basrah’. Untuk mengajarkan Islam di sana, dibangunlah masjid sebagai pusat kegiatan umat Islam.
Setelah kawasan itu berhasil ditaklukan, beliau diperintahkan untuk tinggal di kota Basrah untuk mengajarkan Islam kepada penduduk setempat. Setelah beberapa lama di Basrah, beliau pergi ke Maisan dan Abzaqbad. Kedua kawasan ini dapat ditaklukan dengan mudahnya.
Meski harta rampasan melimpah  di Ubullah. Beliau tidak tertarik untuk menjadikan dirinya kaya. Beliau adalah orang yang sangat cinta kepada kesederhanaan dan hidup miskin. Sampai banyak kawan-kawannya berusaha untuk mengajak untuk hidup bermewah-mewah. Akan tetapi ajakannya itu ditolak dengan bagus. Dengan rendah hati beliau jawab; “Aku berlindung kepada Allah dari menjadikan diriku besar di sisi duniamu. Sementara kecil di sisi Allah.”
Suatu hari ketika umat Islam berkumpul di masjid di Kuffah, beliau berkhutbah di hadapan mereka. “Wahai kalian semua, bahwasanya dunia telah membisikkan telingga kita bahwa ia akan berakhir (kiamat). Dan setelah itu kalian akan pindah ke alam yang kekal. Maka persiapkan diri kalian kebaikan-kebaikan yang mengantarkan ke dunia yang abadi. Ambillah secukupnya untuk duniamu.”
Selesai melaksanakan tugasnya, beliau menghadap ke Umar bin Khottob. Beliau memohon untuk tidak dijadikan wali lagi. Hanya saja Umar tetap meminta agar beliau masih mau menjabat wali di Basrah. Dengan agak sedikit terpaksa beliau melangkahkan kakinya menuju Basrah. sebelum beranjak beliau berdoa; “Ya Allah semoga Engkau tidak kembalikan aku ke Basrah.” Do’anya dikabulkan. Akhirnya beliau tidak dijadikan wali lagi di Basrah.

Mughirah bin Syu'bah


Mughirah bin Syu'bah

Biasanya dipanggil Abu Abdullah. Gelarnya “Mughiratul rayi”. Nama lengkapnya al-Mughirah bin Syu’bah bin Abu Amir bin Mas’ud as-Syaqafy. Dilahirkan di kota Thaif pada tahun 20 sebelum Hijrah. Wafat pada tahun 50 Hijriah.

.
Pada masa Jahiliyah, beliau meninggalkan Thaif dan datang ke Iskandaria. Beliau diutus untuk menemui Muqauqis, penguasa Mesir waktu itu. Setelah itu kembali ke Hijaz. Beliau berikrar masuk agama Islam pada tahun 5 Hijriah. Selama berjuang dalam menegakkan ajaran Islam, beliau menyaksikan perjanjian Hudaibiyah, perang Yamamah, penaklukan Syam dan Qadasiya, Nahawan, Hamdan dan lainnya. Hanya saja pada waktu perang Yarmuk beliau tidak ikut berperang karena ada halangan.
.
Sebelum meletus perang Qadasiah, Rustum panglima Persia meminta kepada Sa’ad bin Abu Waqos untuk mengutus wakilnyag yang cerdas dan pandai agar mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Sa’ad akhirnya mengutus al-Mughirah untuk memenuhi permintaan Rustum. Setelah sampai di tempat Rustum, dia berkata; “Kalian adalah tetangga kami. Kami pun berbuat baik kepada kalian dan tidak pernah melakukan kekerasan terhadap kalian. Lebih baik kalian pulang saja ke negerimu. Kami tidak akan melarang perdagangganmu untuk masuk ke negeri kami. Apa jawaban al-Mughiroh mendengar ucapannya itu; “Kami tidak mencari keduniaan. Keinginan dan cita-cita kami adalah kehidupan akherat. Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul.” Setelah itu beliau berkata lagi; “Sungguh saya telah kuasa kelompok ini bagi orang yang tidak mau masuk ke agamaku. Dan saya membalas dendam kepada mereka. Dan saya akan jadikan kemenangan bagi mereka selama mereka mengakui agamaku; yaitu agama yang benar. Tidak seorangpun menginginkan kecuali kemuliaan dan tidak seorangpun berpegang teguh melainkan kepada tali kejayaan dan kemuliaan.” Rustum bertanya; “Apa itu agamamu?” Beliau menjawab; “Adapun tiang agama itu dimana dengannya sesuatu itu akan menjadi maslahah adalah syahadah; tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan mengakui apa yang dibawanya.” Rustum berkata; “Alangkah bagusnya ajaran itu. Terus apa lagi?” Beliau menjawab; “Manusia adalah satu keturunan dari bani Adam dan mereka adalah bersaudara atas dasar satu ayah dan ibu.” Rustum berkata lagi; “Bagus juga pendapatmu ini. setelah itu Rustum bertanya; “Apa pendapatmu sekiranya kami semua masuk agamamu, apakah kalian akan kembali lagi ke negeri kami?” Beliau menjawab; “Iya. Demi Allah. Kami tidak mendekati negerimu melainkan untuk berdagang atau ada keperluan.” Rustum menjawab; “Bagus.” Pada waktu beliau keluar dari tempatnya, Rustum mengingatkan para pemimpin kaumnya tentang ajaran Islam. Hanya saja mereka menolak ajakan Rustum itu untuk mengikuti ajaran Islam. Hingga akhirnya Allah berikan ganjaran atas perbuatannya itu.
.
Pada waktu Umar menjadi kholifah, beliau ditugaskan untuk menjadi wali di Basrah. Selama menjabat sebagai wali, banyak sekali negeri-negeri yang ditaklukan. Hanya saja kemudian beliau mengundurkan diri. Kemudian ditugaskan lagi untuk menjadi wali di Kuffah. Ketika kholifah dipegang Utsman bin Affan, beliau juga diberi amanah untuk menjadi wali Kuffah tapi kemudian mengundurkan diri. Ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawwiyah, beliau beriktizal dan tidak ikut kedalam mana-mana kubu.
Kononnya beliau adalah orang pertama yang membuat diwan Basrah. mengenai pribadinya, as-Sya’by berkata; “ Orang cerdik dan bijak Arab itu ada 4; Muawwiyah karena kesabaran dan kemurahan hatinya, Amru bin Ash karena pandai menyelesaikan masalah, al-Mughiroh karena kepandian memberi jawaban dengan cepat dan Ziyad bin Abihi karena bijak terhadap yang muda dan tua.”
Selama hidupnya beliau telah meriwayatkan kurang lebih 136 hadits. Diantara riwayat haditsnya itu; Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada kalian; berbuat jahat terhadap ibu, melarang untuk memberi, membunuh anak perempuan. Dan Allah juga membenci berita yang tidak tahu sumbernya, banyak bertanya, dan membazirkan harta benda (HR.Bukhari Muslim)