Laman

Rabu, 09 Januari 2013

Kisah Abu Bakar Digigit Ular : Dialog Sufi

Moh Yasir Alimi, PhD, mantan pengurus PCI NU Cabang Istimewa Australia dan New Zealand (2005-2009) berdialog tentang jalan kesufian dengan Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani. Sang syekh adalah khadim atau pelayan thariqat Naqsabandi Haqqani di Indonesia.


Syaikh Mustafa lahir di Jombang, 25 Januari 1947. Ia adalah ulama sufi Ahlusunnah Wal Jamaa’ah yang menempuh pendidikan di pesantren Darul ’Ulum Jombang, IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Setelah itu, Mustafa, yang kini membimbing 90 zawiyyah thariqat Naqsabandiah Haqqani di Indonesia, melanjutkan studinya ke School of Oriental African Studies (SOAS) University of London, dan Studies Johann Wolfgang Goethe Universitat, Frankfurt Am Mainz, Jerman.

Sebelum mengabdikan 100 persen waktunya untuk dakwah, ia pernah menjadi peneliti di LP3ES,dosen STAN Jakarta, dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dosen Universitas Kebangsaan Malaysia. Pernah juga ia bekerja di Kementerian Belia dan Sukan dan Kuala Lumpur HRDC Trainer Malaysia.

Tahun 1997, ia ditunjuk oleh Maulana Syaikh Nadzim Al Haqqani Ciprus dan Maulana Syaikh Hisyam Kabbani Ar Robbani USA sebagai The Representatif of The Naqsybandi Sufi Order Indonesia.

Sejak saat itu, Syaikh Mustafa melepaskan profesinya dan mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk dakwah berkeliling ke seluruh penjuru Indonesia membimbing umat agar mencintai Rasulullah.

Di bawah perintah dan bimbingan Maulana Syaikh Nadzim, metoda dakwah Syaikh Mustafa mengedepankan semangat mencintai Rasulullah SAW, perdamaian, toleransi, cinta, kasing sayang dan persaudaraan. Dialog Yasir dan sang Syaikh, ada yang ketemu langsung, adapula melalui sms, maka gaya bahasa bisa bermacam-macam, dari bahasa sms, percakapan dan bahasa gaul. Berikut ini bagian pertama dialo kesufia.

Syaikh, terangkan kepadaku apa hakekat thariqat?


Thariqat adalah suatu kebersamaan dengan syaikh, untuk melebur ego, ke dalam suasana adab agar hati yang bersangkutan bisa merasakan arti fana missal fi adhomatil akhirat. Bukan suntuk cuma dengan dunia saja. Thariqat juga tentang azimah, keterkaitan dengan Rasulullah, akhlaknya, sunnahnya, tentang adhomatil Quran; tentang kemaslahatan hidup; tentang iklim saling kecintaan terhadap sesama manusia; tentang barokah kesalehan; tentang pertalian antara hamba dengan Allah; tentang hudhur, tentang getar dalam hati kita akan kehadiran Allah. Inilah antara lain mutiara-mutiara Islam yang makin terasa hilang; maka temukanlah kembalimutiara itu melalui thariqat.

Bisa dijelaskan lagi Syaikh, tentang rasa cinta dan getar di dada itu?


Lihatlah kecintaan dan getar hati Abu Bakar. 1427 tahun yang lalu, ketika Rasulullah harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayidina Abu Bakar, orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping dalam perjalanan menuju ke Madinah.

Sayidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan "Penuh Adab yang Bersungguh", di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rasulullah berjalan menuju ke Tenggara. Sayyidina Abu Bakar boro-boro complain (mengeluh), criticizing, bertanya pun tidak, jare nang Madinah, lha kok ngidul, kenapa lewatTenggara?

Itu cermin apa, Syaihk?


Itu cerminan dari Adab. Dengan penuh kecintaan, Sayyidina Abu Bakar yang lebih tua dari Rasulullah, yang punya kelayakan psikologis untuk mempertanyakan, untuk meminta kejelasan seperti yang barangkali terjadi dalam kehidupan kita sekarang yangmenjadi ruh dari reformasi, segala hal dipertanyakan sehingga batasan antara adab dan tidak adab, luber, hilang.

Sayyidina Abu Bakar tidak bertanya, Beliau ikut saja apa yang dibuat oleh Rasulullah, karena di hati Beliau ada "cinta" dan “percaya" dan sesuatu yang tidak lagi perlu tawar-menawar. Rasulullah Al Amin,tidak pernah keluar dari lidah Beliau sesuatu yang tidak patut tidak dipercaya. Pribadinya penuh pancaran kecintaan. Mencintai dan sangat pantes dicintai.Pribadinya begitu rupa menimbulkan `desire', suatu kerinduan. Ini sebenarnya yang menjadi sangatpenting untuk dijelaskan.
Nabi Muhammad berjalan. Sayidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayidina Abu Bakar sadar. "Ooo … Mau istirahat ke Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rasulullah naik, Oooo…kesimpulan Sayidina Abu Bakar.” With no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi.

Pertama-tama, dalam Islam yang kita butuhkan bukan`ngerti' syariat, tapi cinta terhadap yang mengajarkannya dan Dzat Maha Suci yang menurunkannya. Tanpa kacamata tersebut, tanpa rasa cinta tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi "The Matter of Transaction", tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rasulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan, "Oooo … Rasulullah mau istirahat di Gua Tsur."

Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan di gunung, pasti ada ular berbisanya. Itu reason, pikiran digunakan sesudah ‘cinta’, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang well enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (tidak senonoh), yang bisa bertingkah macam-macam, menimbulkan problem.

Lantas, apa yang kemudian dilakukan Abu Bakar?


Beliau kemudian mendekati Rasulullah, kasih aku kesempatan masuk. Rasulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3. Barangkali sudah kruntelan di situ, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang di situ. Beliau buka sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rasulullah. Beliau tidak mau Rasulullah digigit ular.

Akhirnya kakinya dicatel (digigit) oleh ular. Kemudian Beliau bilang, “Silakan masuk Rasulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon.” Rasul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rasulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rasulullah.

Bagaimana respon Rasulullah, Syaikh?


"Nangis Sampean?” tanya Rasulullah.

"Tidak,” jawab Abu Bakar, “kakiku digigit ular."

There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rasulullah berkata pada ular.

" Hai Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?"

Dialog Rasulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

"Ya aku ngerti Kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Apa kata Allah?


"Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah.

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad. "

Apa pesan dari cerita Sayidina Abu Bakar, Syaikh?


Rasa cinta Abu Bakar As-Shiddiq pelajaran yang sangat essential, bukan textual. Cerita tentang Islam seperti terdeskripsi dalam Al-Qur'an, dalam hadits, tidak dapat kita tangkap muatan sebenarnya yang ada di dalamnya bila tidak dengan hati, with no sense, with no heart.

Gaya hidup di dada Abu Bakar dalam bercinta, dalam berkerendahan hati, dalam berketulusan, dalam berkesediaan untuk patuh, dan untuk membuat pengkhidmatan, itu adalah rukun Islam yang tidak tertulis. Semua ini adalah muatan di dalam kehidupan Rasulullah.

Lihatlah kehidupan sekarang. Aku dan kamu setiap hari secara mauqut diberikan kesempatan untuk mengucapkan "Assalamu'alaika ya ayyuhan nabiyyu warahmatullah". Tapi with no sense, with no heart, belum sempat Rasulullah kita pindahkan ke perasaan, ke hati kita, belum sempat akhirat kita hadirkan ke dalam rasa kita Bagaimana aku dan kamu bisa menjadi `abid, bagaimana aku dan kamu menjadi shakir, bagaimana aku dan kamu menjadi muttaqiin dan seterusnya dan seterusnya. Itulah persoalan kita. Maha mulia Allah yang memberi kita rahmat dan taufiq, supaya kita semuanya berkhidmad.

Saya semakin paham maksud Syaikh. Thariqat adalah tentang azimah keterkaitan dengan Rasulullah. Terangkanlah lebih luas lagi kepadaku tentang hal ini agar kepala dan hati kami menjadi terang?

Azimah adalah lawan kata dari ruskhsah, yaitu keringanan, selanjutnya yang enteng, kemudian dalam praktek bias jadi perilaku atau suasana hati yang ngentengin. Ini salah kaprah dalam ibadah. Bisakah tukmaninah dan khusuk dalam bobot enteng-enteng saja, cuma sekilas sambil lalu?

Di situ ada nada yang hilang dan menguap; sejenis kesungguhan, ikhlas, istiqamah, ihsan, hudlur, getar hati. Ini bisa didapatnya melalui thariqat. Nah Rasulullah adalah mainstream kehadiran kita terhadap kehadiran Allah, dalam aneka perspektif yang ada, akhlak, aqidah, syariat, ibadah, sastra. Bukan Al-Quran hadits sendiri.

Kemasannya musti azimah, jangan sampai cuma suplemen, asesoris, cuma seremoni apalagi dikontroversikan sebagai bidah, perlu rumusan paradigm yang benar-benar akurat. Di sini pentingya istighfar di thariqat: min kulli ma yukholiful azimah.

Jadi saat ini pun, kita semestinya senantiasa menjaga pertalian ruhani dan batin terhadap Rasulullah agar mendapatkan rahmat Allah.

Ya Yasir, berangkat dari aturan dalam tahiyat shalat, kita diniscayakan untuk direct communication dengan beliau, apakah telah cukup kadar esoteric dan kesungguhan dalam bersalaman kepada beliau? Di tharikat ini justru dijadikan urat nadi ibadah kita, bahkan hidup kita pada dasarnya dan secara menyeluruh bertumpu pada Rasulullah. Ini merujuk pada hadis Qudsi.

Hadits pertama, Ya Muhammad Aku berkenan untuk mencipta manusia, walau mereka suka seenak sendiri, Aku menjadikan mereka pilihan-Ku karena itu mereka Kuserahkan dan Kutitipkan kepadamu Muhammad, sentuhlah qalbu mereka olehmu agar tak ngaco-ngaco banget, kembalikan mereka kelak pada-Ku di akherat dalam keadaan fitri sebagaimana ketika Kuserahkan padamu”.

Hadis Qudsi kedua. Suatu ketika Rasulullah memampak sosok yang tak beliau kenali, padahal beliau paham semua orang, maka sabda beliau:

“Siapa kamu?”
“Aku Iblis” tukas orang asing itu.
“Lho kok ngaku biasanya kan kamu menipu?” Tanya Rasulullah.
“Aku diperintah Allah untuk datang kepadamu dan menjawab secara benar”.
“Ooo.. “siapa yang paling tak kamu sukai?” tanya Nabi.
“Kamu,” jawab iblis tegas.
“Kenapa,” tanya Rasulullah.
“Orang yang bersama Kamu tak dapat kugoda,” jawab iblis.

Banyak orang sulit memahami ini karena menganggap Rasulullah sudah mati, Syaikh?

Yang mati kita, bukan Rasulullah.[]

Sumber: www.nu.or.id

Jumat, 28 Desember 2012

INSAFNYA PENGINGKAR KITAB IHYA ULUMIDDIN



 
Syaikh Abdullah bin As’ad Al-Yafi’i bercerita, bahwah Syaikh Abul Hasan Ali bin
Harzahim Al-Faqih Al-
Maghrobi, adalah orang yang
sangat di dengar dan
di patuhi kata-katanya oleh banyak orang kala itu, dan Ia
adalah juga orang yang sangat mengingkari kitab
Ihya’ Ulumiddin.
Pada suatu saat Ia memerintahkan
masyarakat agar mencari dan mengumpulkan naskah-naskah kitab Ihya’, Ia bermaksud membakarnya di
Masjid Jami’ pada hari Jum’at di saat orang-orang berkumpul guna menjalankan ibadah sholat
Jum’at.
Akan tetapi pada malam jum’atnya, Ia bermimpi masuk kedalam masjid jami’
dan mandapati Nabi
Muhammad saw, Abu Bakar ra dan Umar bin Khotthob ra
sedang duduk-duduk disitu,
sementara Imam Ghozali sedang berdiri dihadapan
Nabi Muhammad saw. Ketika
Al-Faqih As-Syaikh Abul Hasan Ali bin Harzahim Al-
Maghrabi masuk kedalam masjid, Imam Ghozali berkata
kepada Nabi Muhammad
saw:

“Itulah orang yang
memusuhiku wahai
Rasulullah, Jika yang benar adalah seperti apa yang Ia yakini, maka aku akan
bertaubat kepada Allah saw.
Tetapi jika tenyata apa yang aku tulis adalah yang benar,
berkat barokah dan karena
mengikuti sunnahmu, maka ambilkan hakku untukku dari
musuhku”.

Mendengar laporan Imam Ghozali, Nabi Muhammad saw lantas mengambil kitab Ihya’ dan membukanya
selembar demi selembar dari
awal hingga akhir, lalu Nabi
Muhammad saw berkata:

“Demi Allah sesungguhnya
kitab ini adalah sesuatu yang
bagus”.

Kemudian Abu Bakar
ra pun mengambil dan memandanginya selembar- demi selembar, demikian
juga Umar bin Khotthob ra,
keduanya sama-sama
menyatakan kesalutan dan simpatinya terhadap kitab
ihya’ yang mereka anggap bagus.
Setelah menyimak dan mentela’ah isi kandungan
kitab Ihya’ Ulumiddin Nabi Muhammad lalu memutuskan
untuk menghukum cambuk
Al-Faqih As-Syaikh Abul Hasan Ali bin Harzahim Al-
Maghrabi karena
kebohongannya. Tetapi baru sampai pada cambukan yang
kelima, Abu Bakar ra
bermaksud menolongnya
dengan berbicara kepada Nabi Muhammad saw:,

“Ya Rasulullah,
mungkin saja ia
menganggap bahwa isi kandungan kitab Ihya’menyalahi sunnahmu, tetapi
ternyata ia keliru”.

Rasulullah Saw
menyerahkan seluruhnya
kepada Imam Ghozali, dan Imam Ghozali pun menerima usulan yang dikemukakan
oleh Abu Bakar, juga sudi memaafkan kesalahan Ibnu
Harzahim Al-Maghrabi.
Sampai disini Ibnu Harzahim
terbangun dari tidurnya dan
mendapatkan adanya bekas cambukan dipunggungnya.
Kemudian ia
memberitahukan hal ini
kepada pengikut-
pengikutnya dan
menyatakan bertaubat kepada Allah atas
kekeliruannya juga meminta maaf kepada Imam Ghozali.
Hari demi hari berlalu, tetapi
nyeri bekas cambukan itu masih saja di rasakannya,
akhirnya ia putuskan untuk lebih mendekatkan diri dan
lebih menghibah lagi kepada Allah saw serta meminta
pertolongan Allah swt
dengan lantaran Nabi
Muhammad saw, sampai akhirnya ia kembali memimpikan Nabi saw
mendatanginya lalu
mengusapkan tangan beliau yang mulya kepunggungnya,
lantas sembuhlah
punggungnya atas izin Allah swt.
Setelah kejadian ini, Ibnu Harzahim terus menerus mengkaji kitab Ihya’ Ulumiddin, sehingga Allah
swt membuka hatinya,
menjadikannya orang yang ma’rifat billah dan menjadi
salah seorang dari akaabirul masyaayikh dalam bidang
ilmu dzohir dan ilmu bathin.
Semoga Allah swt
memberinya rahmat.
Syaikh Abdullah bin As’ad Al- Yafi’i Sang perowi cerita ini
berkata:
“Cerita ini saya
dapat dengan sanad yang shohih, dari waliyullah ke
waliyullah, yaitu dari Asy-Syaikhul kabir Al-Quthb Syihabuddin Ahmad bin Al-
Milaq Asy-Syadzili dari
gurunya Asy-Syaikhul kabir Al-‘Arif billah Yaqut Asy-Syadzili dari gurunya Asy-
Syaikhul kabir Al-‘Arif billah Abil ‘Abbas Al-Mursi dari
Syaikhus Syuyukh Abil Hasan Asy-Syadzili, yaitu seorang
waliyullah yang semasa dengan Ibnu Harzahim. Asy-Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzili berkata:
“Dan sewaktu Ibnu
Harzahim rahimahullah
meninggal dunia, bekas cambukan itu masih tampak
jelas dipunggungnya”.
Sumber cerita, Kitab Ta’riful Ahya’ Bifadlooilil Ihya’ lisy
Syaikh Al-Allamah Abdul Qodir bin Syaikh bin Abdullah
Al-Idrus yang wafat pada tahun 1038 H.
Sumber : http://
www. kang mahfudz.co.cc

Cerpen GusMus : GusJakfar



Di antara putera-putera Kiai
Saleh, pengasuh pesantren
"Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di
daerah kami, Gus Jakfar-lah yang
paling menarik perhatian
masyarakat. Mungkin Gus Jakfar
tidak sealim dan sepandai
saudara-saudaranya, tapi dia
mempunyai keistimewaan yang
membuat namanya tenar hingga
ke luar daerah, malah konon
beberapa pejabat tinggi dari
pusat memerlukan sowan
khusus ke rumahnya setelah
mengunjungi Kiai Saleh. Kata
Kang Solikin yang dekat dengan
keluarga ndalem, bahkan Kiai
Saleh sendiri segan dengan
anaknya yang satu itu.
"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua
dari beliau sendiri," cerita Kang
Solikin suatu hari kepada kawan-
kawannya yang sedang
membicarakan putera bungsu
Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak
paham apa maksudnya."
"Tapi, Gus Jakfar memang luar
biasa," kata Mas Bambang,
pegawai Pemda yang sering
mengikuti pengajian subuh Kiai
Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas
saja mereka melihat kening
orang, kok langsung bisa melihat
rahasianya yang tersembunyi.
Kalian ingat, Sumini yang anak
penjual rujak di terminal lama
yang dijuluki perawan tua itu,
sebelum dilamar orang sabrang
kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu
Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat
keningmu kok bersinar, sudah
ada yang ngelamar ya?'. Tak lama
kemudian orang sabrang itu
datang melamarnya."
"Kang Kandar kan juga begitu,"
timpal Mas Guru Slamet. "Kalian
kan mendengar sendiri ketika
Gus Jakfar bilang kepada tukang
kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat
hidung sampeyan kok sudah
bengkok, sudah capek
menghirup nafas ya?' Lho,
ternyata besoknya Kang Kandar
meninggal."
"Ya. Waktu itu saya pikir Gus
Jakfar hanya berkelakar," sahut
Ustadz Kamil, "Nggak tahunya
beliau sedang membaca tanda
pada diri Kang Kandar."
"Saya malah mengalami sendiri,"
kata Lik Salamun, pemborong
yang dari tadi sudah kepingin
ikut bicara. "Waktu itu, tak ada
hujan tak ada angina, Gus Jakfar
bilang kepada saya, 'Wah, saku
sampeyan kok mondol-mondol;
dapat proyek besar ya?' Padahal
saat itu saku saya justru sedang
kemps. Dan percaya atau tidak,
esok harinya saya memenangkan
tender yang diselenggarakan
Pemda tingkat propinsi."
"Apa yang begitu itu disebut ilmu
kasyaf?" tanya Pak Carik yang
sejak tadi hanya asyik
mendengarkan.
"Mungkin saja," jawab Ustadz
Kamil. "Makanya saya justru takut
ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca
tanda-tanda buruk saya, lalu
pikiran saya terganggu."
***
Maka, ketika kemudian sikap Gus
Jakfar berubah, masyarakat pun
geger; terutama para santri
kalong, orang-orang kampung
yang ikut mengaji tapi tidak
tinggal di pesantren seperti Kang
Solikin yang selama ini merasa
dekat dengan beliau. Mula-mula
Gus Jakfar menghilang
berminggu-minggu, kemudian
ketika kembali tahu-tahu
sikapnya berubah menjadi
manusia biasa. Dia sama sekali
berhenti dan tak mau lagi
membaca tanda-tanda. Tak mau
lagi memberikan isyarat-isyarat
yang berbau ramalan. Ringkas
kata, dia benar-benar kehilangan
keistimewaannya.
"Jangan-jangan ilmu beliau
hilang pada saat beliau
menghilang itu," komentar Mas
Guru Slamet penuh penyesalan.
"Wah, sayang sekali! Apa
gerangan yang terjadi pada
beliau?"
"Ke mana beliau pergi saat
menghilang pun, kita tidak tahu;"
kata Lik Salamun. "Kalau saja kita
tahu ke mana beliau pergi,
mungkin kita akan mengetahui
apa yang terjadi pada beliau dan
mengapa beliau kemudian
berubah."
"Tapi, bagaimanapun ini ada
hikmahnya," ujar Ustadz Kamil.
"Paling tidak, kini kita bisa setiap
saat menemui Gus Jakfar tanpa
merasa deg-degan dan was-was;
bisa mengikuti pengajiannya
dengan niat tulus mencari ilmu.
Maka, jangan kita ingin
mengetahui apa yang terjadi
dengan gus kita ini hingga
sikapnya berubah atau ilmunya
hilang, sebaiknya kita langsung
saja menemui beliau."
Begitulah, sesuai usul Ustadz
Kamil, pada malam Jum'at
sehabis wiridan salat Isya, saat
mana Gus Jakfar prei, tidak
mengajar; rombongan santri
kalong sengaja mendatangi
rumahnya. Kali ini hampir semua
anggota rombongan merasakan
keakraban Gus Jakfar, jauh
melebihi yang sudah-sudah.
Mungkin karena kini tidak ada
lagi sekat berupa rasa segan,
was-was dan takut.
Setelah ngobrol ke sana kemari,
akhirnya Ustadz Kamil berterus
terang mengungkapkan maksud
utama kedatangan rombongan:
"Gus, di samping silaturahmi
seperti biasa, malam ini kami
datang juga dengan sedikit
keperluan khusus. Singkatnya,
kami penasaran dan sangat ingin
tahu latar belakang perubahan
sikap sampeyan."
"Perubahan apa?" tanya Gus
Jakfar sambil tersenyum penuh
arti. "Sikap yang mana? Kalian ini
ada-ada saja. Saya kok merasa
tidak berubah."
"Dulu sampeyan kan biasa dan
suka membaca tanda-tanda
orang," tukas Mas Guru Slamet,
"kok sekarang tiba-tiba mak pet,
sampeyan tak mau lagi
membaca, bahkan diminta pun
tak mau."
"O, itu," kata Gus Jakfar seperti
benar-benar baru tahu. Tapi dia
tidak segera meneruskan
bicaranya. Diam agak lama. Baru
setelah menyeruput kopi di
depannya, dia melanjutkan,
"Ceritanya panjang." Dia berhenti
lagi, membuat kami tidak sabar,
tapi kami diam saja.
"Kalian ingat, saya lama
menghilang?" akhirnya Gus
Jakfar bertanya, membuat kami
yakin bahwa dia benar-benar
siap untuk bercerita. Maka
serempak kami mengangguk.
"Suatu malam saya bermimpi
ketemu ayah dan saya disuruh
mencari seorang wali sepuh
yang tinggal di sebuah desa kecil
di lereng gunung yang jaraknya
dari sini sekitar 200 km kea rah
selatan. Namanya Kiai Tawakkal.
Kata ayah dalam mimpi itu, hanya
kiai-kiai tertentu yang tahu
tentang kiai yang usianya sudah
lebih 100 tahun ini. Santri-santri
yang belajar kepada beliau pun
rata-rata sudah disebut kiai di
daerah masing-masing."
"Terus terang, sejak bermimpi
itu, saya tidak bisa menahan
keinginan saya untuk berkenalan
dan kalau bisa berguru kepada
Wali Tawakkal itu. Maka dengan
diam-diam dan tanpa pamit
siapa-siapa, saya pun pergi ke
tempat yang ditunjukkan ayah
dalam mimpi dengan niat
bilbarakah dan menimba ilmu
beliau. Ternyata, ketika sampai di
sana, hampir semua orang yang
saya jumpai mengaku tidak
mengenal nama Kiai Tawakkal.
Baru setelah seharian melacak ke
sana kemari, ada seorang tua
yang memberi petunjuk."
'Cobalah nakmas ikuti jalan
setapak di sana itu' katanya.
'Nanti nakmas akan berjumpa
dengan sebuah sungai kecil;
terus saja nakmas menyeberang.
Begitu sampai seberang, nakmas
akan melihat gubuk-gubuk kecil
dari bambu. Nah, kemungkinan
besar orang yang nakmas cari
akan nakmas jumpai di sana. Di
gubuk yang terletak di tengah-
tengah itulah tinggal seorang tua
seperti yang nakmas gambarkan.
Orang sini memanggilnya Mbah
Jogo. Barangkali itulah yang
nakmas sebut Kiai siapa tadi?'
'Kiai Tawakkal.'
'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin
itulah orangnya, Mbah Jogo.'
"Saya pun mengikuti petunjuk
orang tua itu, menyeberang
sungai dan menemukan
sekelompok rumah gubuk dari
bambu."
"Dan betul, di gubuk bambu yang
terletak di tengah-tengah, saya
menemukan Kiai Tawakkal alias
Mbah Jogo sedang dikelilingi
santri-santrinya yang rata-rata
sudah tua. Saya diterima dengan
penuh keramahan, seolah-olah
saya sudah merupakan bagian
dari mereka. Dan kalian tahu?
Ternyata penampilan Kiai
Tawakkal sama sekali tidak
mencerminkan sosoknya sebagai
orang tua. Tubuhnya tegap dan
wajahnya berseri-seri. Kedua
matanya indah memancarkan
kearifan. Bicaranya jelas dan
teratur. Hampir semua kalimat
yang meluncur dari mulut beliau
bermuatan kata-kata hikmah."
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti,
menarik nafas panjang, baru
kemudian melanjutkan, "Hanya
ada satu hal yang membuat saya
terkejut dan tgerganggu. Saya
melihat di kening beliau yang
lapang ada tanda yang jelas
sekali, seolah-olah saya membaca
tulisan dengan huruf yang cukup
besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'.
Astaghfirullah! Belum pernah
selama ini saya melihat tanda
yang begitu gambling. Saya ingin
tidak mempercayai apa yang
saya lihat. Pasti saya keliru. Masak
seorang yang dikenal wali,
berilmu tinggi, dan disegani
banyak kiai yang lain, disurati
sebagai ahli neraka. Tak
mungkin. Saya mencoba
meyakin-yakinkan diri saya
bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak
bisa. Tanda itu terus melekat di
kening beliau. Bahkan
belakangan saya melihat tanda
itu semakin jelas ketika beliau
habis berwudhu. Gila!"
"Akhirnya niat saya untuk
menimba ilmu kepada beliau,
meskipun secara lisan memang
saya sampaikan demikian, dalam
hati sudah berubah menjadi
keinginan untuk menyelidiki dan
memecahkan keganjialan ini.
Beberapa hari saya amati
perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak
melihat sama sekali hal-hal
mencurigakan. Kegiatan rutinnya
sehari-hari tidak begitu berbeda
dengan kebanyakan kiai yang
lain: mengimami salat jamaah;
melakukan salat-salat sunnat
seperti dhuha, tahajjud,
witir,dsb.; mengajar kitab-kitab
(umumnya kitab-kitab besar);
mujahadah; dzikir malam;
menemui tamu; dan
semacamnya. Kalaupun beliau
keluar, biasanya untuk
memenuhi undangan hajatan
atau- dan ini sangat jarang
sekali- mengisi pengajian umum.
Memang ada kalanya beliau
keluar pada malam-malam
tertentu; tapi menurut santri-
santri yang lama, itu pun
merupakan kegiatan rutin yang
sudah dijalani Kiai Tawakkal
sejak muda. Semacam lelana
brata, kata mereka."
"Baru setelah beberapa minggu
tinggal di 'pesantren bambu',
saya mendapat kesempatan atau
tepatnya keberanian untuk
mengikuti Kiai Tawakkal keluar.
Saya pikir, inilah kesempatan
untuk mendapatkan jawaban
atas tanda tanya yang selama ini
mengganggu saya."
"Begitulah, pada suatu malam
purnama, saya melihat Kiai keluar
dengan berpakaian rapi. Melihat
waktunya yang sudah larut, tidak
mungkin beliau pergi untuk
mendatangi undangan hajatan
atau lainnya. Dengan hati-hati
saya membuntutinya dari
belakang; tidak terlalu dekat, tapi
juga tidak terlalu jauh. Dari jalan
setapak hingga ke jalan desa, Kiai
terus berjalan dengan langkah
yang tetap tegap. Akan ke mana
beliau gerangan? Apa ini yang
disebut semacam lelana brata?
Jalanan semakin sepi; saya pun
semakin berhati-hati
mengikutinya, khawatir tiba-tiba
Kiai menoleh ke belakang."
"Setelah melewati kuburan dan
kebun sengon, beliau berbelok.
Ketika kemudian saya ikut belok,
saya kaget, ternyata sosoknya tak
kelihatan lagi. Yang terlihat justru
sebuah warung yang penuh
pengunjung. Terdengar gelak
tawa ramai sekali. Dengan
bengong saya mendekati
warung terpencil dengan
penerangan petromak itu. Dua
orang wanita- yang satu masih
muda dan yang satunya lagi agak
lebih tua- dengan dandanan
yang menor sibuk melayani
pelanggan sambil menebar tawa
genit ke sana kemari. Tidak
mungkin Kiai mampir ke warung
ini, pikir saya. Ke warung biasa
saja tidak pantas, apalagi
warung yang suasananya saja
mengesankan kemesuman ini.
'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya
dikagetkan oleh suara yang tidak
asing di telinga saya, memanggil-
manggil nama saya. Masyaallah,
saya hampir-hampir tidak
mempercayai pendengaran dan
penglihatan saya. Memang betul,
mata saya melihat Kiai Tawakkal
melambaikan tangan dari dalam
warung. Ah. Dengan kikuk dan
pikiran tak karuan, saya pun
terpaksa masuk dan
menghampiri kiai yang saya yang
duduk santai di pojok. Warung
penuh dengan asap rokok.
Kedua wanita menor menyambut
saya dengan senyum penuh arti.
Kiai Tawakkal menyuruh orang
disampingnya untuk bergeser,
'Kasi kawan saya ini tempat
sedikit!' Lalu, kepada orang-
orang yang ada di warung, Kiai
memperkenalkan saya. Katanya,
'Ini kawan saya, dia baru datang
dari daerah yang cukup jauh. Cari
pengalaman katanya'. Mereka
yang duduknya dekat serta
merta mengulurkan tangan,
menjabat tangan saya dengan
ramah; sementara yang jauh
melambaikan tangan".
"Saya masih belum sepenuhnya
menguasai diri, masih seperti
dalam mimpi, ketika tiba-tiba
saya dengar Kiai menawari,
'Minum kopi ya?!' Saya
mengangguk asal mengangguk.
'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai
kepada wanita warung sambil
mendorong piring jajan ke dekat
saya. 'Silakan! Ini namanya rondo
royal, tape goreng kebanggan
warung ini! Lagi-lagi saya hanya
menganggukkan kepala asal
mengangguk."
"Kiai Tawakkal kemudian asyik
kembali dengan 'kawan-kawan'-
nya dan membiarkan saya
bengong sendiri. Saya masih tak
habis pikir, bagaimana mungkin
Kiai Tawakkal yang terkenal
waliyullah dan dihormati para
kiai lain bisa berada di sini. Akrab
dengan orang-orang beginian;
bercanda dengan wanita
warung. Ah, inikah yang disebut
lelana brata? Ataukah ini
merupakan dunia lain beliau
yang sengaja disembunyikan
dari umatnya? Tiba-tiba saya
seperti mendapat jawaban dari
tanda tanya yang selama ini
mengganggu saya dan
karenanya saya bersusah payah
mengikutinya malam ini. O,
pantas di keningnya kulihat
tanda itu. Tiba-tiba sikap dan
pandangan saya terhadap beliau
berubah."
'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba
suara Kiai Tawakkal
membuyarkan lamunan saya.
'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa
menunggu jawaban saya, Kiai
membayari minuman dan
makanan kami, berdiri, melambai
kepada semua, kemudian keluar.
Seperti kerbau dicocok hidung,
saya pun mengikutinya. Ternyata
setelah melewati kebon sengon,
Kiai Tawakkal tidak menyusuri
jalan-jalan yang tadi kami lalui.
'Biar cepat, kita mengambil jalan
pintas saja!' katanya."
"Kami melewati pematang, lalu
menerobos hutan, dan akhirnya
sampai di sebuah sungai. Dan,
sekali lagi saya menyaksikan
kejadian yang menggoncangkan.
Kiai Tawakkal berjalan di atas
permukaan air sungai, seolah-
olah di atas jalan biasa saja.
Sampai di seberang, beliau
menoleh ke arah saya yang
masih berdiri mematung. Beliau
melambai. 'Ayo!' teriaknya.
Untung saya bisa berenang; saya
pun kemudian berenang
menyeberangi sungai yang
cukup lebar. Sampai di seberang,
ternyata Kiai Tawakkal sudah
duduk-duduk di bawah pohon
randu alas, menunggu. 'Kita
istirahat sebentar,' katanya tanpa
menengok saya yang sibuk
berpakaian. 'Kita masih punya
waktu, insya Allah sebelum
subuh kita sudah sampai
pondok.'
Setelah saya ikut duduk di
sampingnya, tiba-tiba dengan
suara berwibawa, Kiai berkata
mengejutkan, 'Bagaimana? Kau
sudah menemukan apa yang
kaucari? Apakah kau sudah
menemukan pembenar dari
tanda yang kaubaca di kening
saya? Mengapa kau seperti masih
terkejut? Apakah kau yang mahir
melihat tanda-tanda menjadi
ragu terhadap kemahiranmu
sendiri?' Dingin air sungai
rasanya semakin menusuk
mendengar rentetan pertanyaan
beliau yang menelanjangi itu.
Saya tidak bisa berkata apa-apa.
Beliau yang kemudian terus
berbicara.
'Anak muda, kau tidak perlu
mencemaskan saya hanya karena
kau melihat tanda "Ahli Neraka"
di kening saya. Kau pun tidak
perlu bersusah-payah mencari
bukti yang menunjukkan bahwa
aku memang pantas masuk
neraka. Karena, pertama, apa
yang kau lihat belum tentu
merupakan hasil dari pandangan
kalbumu yang bening. Kedua,
kau kan tahu, sebagaimana
neraka dan sorga, aku adalah
milik Allah. Maka terserah
kehendak-Nya, apakah Ia
memasukkan diriku ke sorga
atau neraka. Untuk memasukkan
hamba-Nya ke sorga atau neraka,
sebenarnyalah Ia tidak
memerlukan alasan. Sebagai kiai,
apakah kau berani menjamin
amalmu pasti mengantarkanmu
ke sorga kelak? Atau kau berani
mengatakan bahwa orang-orang
di warung yang tadi kau
pandang sebelah mata itu pasti
masuk neraka? Kita berbuat baik
karena kita ingin dipandang baik
oleh-Nya, kita ingin berdekat-
dekat dengan-Nya, tapi kita tidak
berhak menuntut balasan
kebaikan kita. Mengapa? Karena
kebaikan kita pun berasal dari-
Nya. Bukankah begitu?'
Aku hanya bisa menunduk.
Sementara Kiai Tawakkal terus
berbicara sambil menepuk-
nepuk punggung saya. 'Kau
harus lebih berhati-hati bila
mendapat cobaan Allah berupa
anugerah. Cobaan yang berupa
anugerah tidak kalah gawatnya
dibanding cobaan yang berupa
penderitaan. Seperti mereka
yang di warung tadi; kebanyakan
mereka orang susah. Orang
susah sulit kau bayangkan
bersikap takabbur; ujub, atau
sikap-sikap lain yang cenderung
membesarkan diri sendiri.
Berbeda dengan mereka yang
mempunyai kemampuan dan
kelebihan: godaan untuk
takabbur dan sebagainya itu
datang setiap saat. Apalagi bila
kemampuan dan kelebihan itu
diakui oleh banyak pihak'
Malam itu saya benar-benar
merasa mendapatkan
pemahaman dan pandangan
baru dari apa yang selama ini
sudah saya ketahui.
'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai
bangkit. 'Sebentar lagi subuh.
Setelah sembahyang subuh nanti,
kau boleh pulang.' Saya tidak
merasa diusir; nyatanya memang
saya sudah mendapat banyak
dari kiai luar biasa ini."
"Ketika saya ikut bangkit, saya
celingukan. Kiai Tawakkal sudah
tak tampak lagi. Dengan bingung
saya terus berjalan. Kudengar
azan subuh berkumandang dari
sebuah surau, tapi bukan surau
bambu. Seperti orang linglung,
saya datangi surau itu dengan
harapan bisa ketemu dan
berjamaah salat subuh dengan
Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan
Kiai Tawakkal, orang yang mirip
beliau pun tak ada. Tak seorang
pun dari mereka yang berada di
surau itu yang saya kenal. Baru
setelah sembahyang, seseorang
menghampiri saya. 'Apakah
sampeyan Jakfar?' tanyanya.
Ketika saya mengiyakan, orang
itu pun menyerahkan sebuah
bungkusan yang ternyata berisi
barang-barang milik saya sendiri.
'Ini titipan Mbah Jogo, katanya
milik sampeyan.'
'Beliau di mana?' tanya saya
buru-buru.
'Mana saya tahu?' jawabnya.
'Mbah Jogo datang dan pergi
semaunya. Tak ada seorang pun
yang tahu dari mana beliau
datang dan ke mana beliau
pergi.'
Begitulah ceritanya. Dan Kiai
Tawakkal alias Mbah Jogo yang
telah berhasil mengubah sikap
saya itu tetap merupakan
misteri."
Gus Jakfar sudah mengakhiri
ceritanya, tapi kami yang dari
tadi suntuk mendengarkan
masih diam tercenung sampai
Gus Jakfar kembali menawarkan
suguhannya.


FP : https://www.facebook.com/pages/Komunitas-Ngaji-Sak-Paran-Paran/218442431604899